bimbingan konseling
Jumat, 09 Mei 2014
KONSELING KELUARGA
Teknik Konseling keluarga
Teknik-teknik konseling keluarga
Setelah mempelajari proses dan tahapan
konseling keluarga, akan tergambarlah pada pikiran kita bahwa setiap
tahap itu tentu mempunyai teknik konseling tertentu, yaitu bagaimana
cara yang tepat bagi konselor untuk memahami dan merespon keadaan klien
terutama emosinya, dan bagaimana melakukan tindakan positif dalam usaha
perubahan perilaku klien kearah positif.
Sesuai dengan pendekatan-pendekatan yang telah dikemukakan di bab-bab yang lalu, maka ada dua pendekatan yang akan dikemukakan, berikut teknik-teknik konseling yang sesuai dengan pendekatan tersebut.
A. Teknik Konseling Keluarga dalam Pendekatan Sistem
Pendekatan system yang dikemukakan oleh perez (1979) mengembangkan 10 teknik konseling keluarga, yaitu:
1. Sculpting (mematung) yaitu suatu teknik yang mengizinkan anggota-anggota keluarga yang menyatakan kepada anggota lain, persepsinya tentang berbagai masalah hubungan diantara anggota-anggota keluarga. Klien diberi izin menyatakan isi hati dan persepsinya tanpa rasa cemas. Sculpting digunakan konselor untuk mengungkapkan konflik keluarga melalui verbal, untuk mengizinkan anggota keluarga mengungkapkan perasaannya melalui verbal, untuk mengizinkan anggota keluarga mengungkapkan perasaannya melalui tindakan (perbuatan). Hal ini bisa dilakukan dengan “the family relationshop tebelau” yaitu anggota keluarga yang “mematung”, tidak memberikan respon apa-apa, selama seorang anggota menyatakan perasaannya secara verbal.
2. Role playing (bermain peran) yaitu suatu teknik yang memberikan peran tertentu kepada anggota keluarga. Peran tersebut adalah peran orang lain dikeluarga itu, misalnya anak memainkan peran sebagai ibu. Dengan cara itu anak akan terlepas atau terbebas dari perasaan-perasaan penghukuman, perasaan tertekan dan lain-lai. Peran itu kemudian bisa dikembalikan lagi kepada keadaan yang sebenarnya jika ia menghadapai suatu prilaku ibunya yang mungkin kurang ia sukai.
3. Silence (diam) apabila anggota berada dalam konflik dan frustasi karena ada salah satu anggota lain yang suka bertindak kejam, maka biasanya mereka datang kehadapan konselor dengan tutup mulut. Kedaan ini harus dimanfaatkan konselor untuk menunggu suatu gejala prilaku yang akan muncul menunggu munculnya pikiran baru. Disamping itu juga digunakan dalam menghadapi klien yang cerewet, banyak omong dan lain-lain.
4. Confrontation (konfrontasi) ialah suatu teknik yang digunakan konselor untuk mempertentangkan pendapat-pendapat anggota keluarga yang terungkap dalam wawancara konseling keluarga. Tujuan agar anggota keluarga itu bisa bicara terus terang, dan jujur serta menyadari perasaan masing-masing. Contoh respon konselor: “siapa biasabya yang banyak omong?”, konselor bertanya dalam suasana yang mungkin saling tuding.
5. Teaching via Questioning ialah suatu teknik mengajar anggota dengan cara bertanya,.
6. Listening (mendengarkan) teknik ini digunakan agar pembicaraan seorang anggota keluarga didengarkan dengan sabar oleh yang lain. Konselor menggunakan teknik ini untuk mendengarkan dengan perhatian terhadap klien. Perhatian tersebut terlihat dari cara duduk konselor yang menghadapkan muka kepada klien, penuh perhatian terhada setiap pernyataan klien, tidak menyela ketika klien sedang serius.
7. Recapitulating (mengikhtisarkan) teknik ini dipakai konselor untuk mengikhtisarkan pembicaraan yang bergalau pada setiap anggota keluarga, sehingga dengan cara itu kemungkinan pembicaraan akan lebih terarah dan terfokus. Misalnya konselor mengatakan “rupanya ibu merasa rendah diri dan tak mampu menjawab jika suami anda berkata kasar”.
8. Summary (menyimpulkan) dalam suatu fase konseling, kemungkinan konselor akan menyimpulkan sementara hasil pembicaraan dengan keluarga itu. Tujuannya agar konseling bisa berlanjut secara progresif.
9. Clarification (menjernihkan) yaitu usaha konselor untuk memperjelas atau menjernihkan suatu pernyataan anggota keluarga karena terkesan samar-samar. Klarifikasi juga terjadi untuk memperjelas perasaan yang diungkap secara samar-samar. Misalnya mislannya konse,or mengatakan kepada jeni, bukan kepada saya”. Biasanya klarifikasi lebih menekankan kepada aspek makna kognitif dari suatu pernyataan verbal klien.
10. Reflection (refleksi) yaitu cara konselor untuk merefleksikann perasaan yang dinyatakan klien, baik yang berbentuk kata-kata atau ekspresi wajahnya. “tanpaknya anda jengkel dengan prilaku seperti itu”.
B. Skill Individual yang Perlu Dikuasai Konselor
Jika pelaksanaan konseling keluarga melalui pendekatan system tak mungkin dilakukan, maka usaha konselor adalah melakukan pendekatan individual terhadap klien yang mengalami kasus keluarga. Misalnya siswa yang bermasalah bersumber dari keluarga. Berhubung kedua orang tuanya sulit untuk di datangkan kesekolah maka buat pertama kali siswa itu diberi konseling individual. Berikut ini adalah beberapa teknik konseling individual.
1. Teknik-teknik Yang Berhubungan Dengan Pemahaman Diri
Teknik-teknik yang berkaitan dengan pemahaman diri ini dibagi atas tujuh kelompok yaitu:
a. Listening skill (keterampilan mendengarkan)
Keterampilan ini terdiri dari;
(1) Attending, yaitu pernyataan dalam bentuk verbal dan non verbal ketika klien memasuki ruang konselor,
(2) Paraphrasing, yaitu respon konselor terhadap pesan utama dalam pernyataan klien. Respon tersebu merupakan pernyataan ringkas dalam bahasa konselor sendiri tentang pernyataan klien,
(3) Clarfyng, yaitu pengungkapan diri dan memfokuskan diskusi. Konselor memperjelas masalah klien,
(4) Perception checking, yaitu menentukan ketepatan pendengaran konselor.
b. Leading skill (keterampilan memimpin)
Keterampilan ini terdiri dari;
(1) Indirect leading, digunakan dalam awal pembicaraan dimana konselor secara tak langsung memimpin klien,
(2) Direct leading, yaitu memberikan klien dan memperluas diskusi,
(3) Focusing, yaitu memfokuskan pembicaraan, mengawasi keragu-raguan, memfokuskan pembiacaraan yang menyebar atau bertele-tele atau bersamar-samar.
(4) Questioning, berhubungan dengan penilikan atau penyelidikan agar klien membuka diri dengan pernyataan-pernyataan yang baru.
c. Reflecting skill (keterampilan merefleksi)
(1) Reflecting feeling, yaitu keterampilan merefleksi perasaan klien;
(2) Reflecting experience, yaitu keterampilan merefleksikan pengalaman klien
(3) Reflecting content, yaitu keterampilan dalam mengulang ide-ide klien dengan bahasa yang lebih segar dan memberikan penekanan.
d. Summarizing skill (keterampilan menyimpulkan)
Yaitu keterampilan konselor dalam menarik kesimpulan-kesimpulan yang menonjol dari pernyataan klien.
e. Confronting skill (keterampilan mengkonfrontasi)
(1) Pengenala perasaan-perasaan dalam diri konselor, konselor sadar akan pengalaman sendiri dihubungkan dengan pengalaman klien.
(2) Mengkonfrontasikan pengalaman, perasaan dan pemikiran klien yang bertentangan.
(3) Pendapat-pendapat yang mereaksi ekspresi klien, konselor mengkonfrontasikan antara pernyataan dengan ekspresi klien, atau dengan gerakan tubuh, pandangan mata.
(4) Meningkatkan konfrontasi diri
(5) Membuka perasaan-perasaan yang tak jelas (repeating)
(6) Memudahkan munculnya perasaan-perasaan yang tenggelam (associating)
f. Interpreting skill (keterampilan menafsirkan)
Terdiri dari;
a. Pertanyaan penafsiran (interpretive questions), memudahkan munculnya kesadaran klien.
b. Fantasi dan metafora (fantasy and metaphor), yaitu mengandaikan, menyimbolkan ide-ide dan perasaan klien.
g. Informing skill (keterampilan menginformasikan)
a. Nasehat (advising), yaitu member sugesti dan pandangan berdasarkan pengalaman konselor.
b. Menginfrmasikan (informing), yaitu memberikan informasi yang valid berdasarkan keahlian konselor.
2. Keterampilan Untuk Menyenangkan dan Menangani Krisis
Keterampilan ini berhubungan dengan klien atau siapa saja yang mengalami krisis, agar supaya konselor mampu merespon dengan fleksibel, cepat dan aktif, serta mencapai tujuan-tujuan yang terbatas. Skill ini juga berhubungan dengan usaha menyenangkan dan konselor sebagai alatnya.
a. Contacting skill (keterampilan mengadakan kontak). Kontak tersebut bisa berupa kontak mata, dan kontak fisik dengan cara memegang bahu klien agar dia merasa senang dan aman. Tetapi kontak tersebut harus didasari oleh kultur, usia, dan keadaan emosinal klien.
b. Reassuring skill (keterampilan menentramkan hati klien) keterampilan ini merupakan usaha konselor untuk meyakinkan akibat logis perbuatannya atau pendekatan. Hal ini merupakan hadiah (reward) bagi klien dan mengurangi stress atau konfliknya. Tujuan teknik ini untuk menanamkan kepercayaan diri klien, memobilisasi kekuatannya, dan mengurangi kecemasan, dan menguatkan prilaku yang diinginkan. Sebagai contoh: “anda dapat merasakan lebih baik”’ “anda dapat menyelesaikan sendiri masalah anda”.
c. Relaxing skill (keterampilan untuk member relax/santai), teknik ini berguna untuk menurunkan ketegangan dengan jalan mengendurkan otot-otot. Teknik relaxation ini dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Tegangkan kedua otot tangan beberapa detik, kemudian kendorkan perlahan-lahan.
b. Tegangkan otot perut dan dada, kemudian kendorkan perlahan-lahan.
c. Tegangkan otot kaki, kemudia kendorkan perlahan-lahan.
d. Tegangkan otot muka, kemudian kendorkan perlahan-lahan.
d. Crisis interpeving skill, teknik bertujuan untuk mengurangi atau meringankan krisis dengan cara mengubah lingkungan klien.
e. Developing action alternatives, teknik ini adalah mengembangkan laternatif-alternatif dalam mengatasi krisis. Konselor mendorong dan memberanikan klien untuk mempertimbangkan alternative-alternatif yang mungkin dapat dilakukan dalam mengatasi krisisnya. Alternative tersebut hendaknya diarahkan konselor berdasarkan persepsi yang realistic klien. Berdasarkan kenyataan, maka fase mengembangkan tindakan mengambil alternative dalam peristiwa klien yang krisis adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan persepsi realistic klien terhadap krisis yang dihadapi klien.
b. Memberikan dorongan untuk mengurangi ketegangan karena adanya krisis dan konflik.
c. Mempertimbangkan semua alternative untuk menagatasi krisis tersebut.
d. Membuat suatu komitmen tentang perbuatan yang bertujuan mencapai keseimbangan yang beralasan dan kesenangan bagi klien.
f. Reffering skill (keterampilan mereferal klien) keterampilan berhubungan dengan sulitnya bagi konselor untuk membantu klien yang krisis. Karena itu konselor harus merefer atau mengadakan referral kepada seorang yang ahli terhadap kasus klien tersebut. Akan tetapi uspaya referral itu berhasil, maka beberapa persyaratan berikut dapat dipenuhi:
(1) Usaha kesediaan klien untuk referal
(2) Mengetahui sumber-sumber referral yang tepat dimasyarakat
(3) Jujurlah dengan keterbatasan konselor sehingga klien perlu direferal.
(4) Mendiskusikan kemungkinan referral dengan lembaga yang menerima.
(5) Bicarakan dengan klien tentang orang-orang atau lembaga yang pernah ia datangi minta bantuan.
(6) Jika klien masih muda, mintalah rekomendasi orang tuanya.
(7) Katakana dengan jujur kepada klien bahwa setiap lembaga juga ada keterbatasannya.
(8) Berilah kesempatan kepada klien atau orang tuanya untuk membuat perundingan dan perjanjian dengan lembaga baru yang akan menanganinya.
(9) Jangan mengirim informasi kepada lembaga baru tanpa izin tertulis dari klien atau orang tuanya.
Mengenai kondisi-kondisi krisis yang mungkin dialami manusia dapat dibagi atas tiga kategori:
1. Keahlian sesuatu (factor luar), yaitu:
a. Perceraian
b. Kehilangan pekerjaan
c. Kehilangan harta milik sperti kebakaran, pencurian, anak meninggal dan lain-lain.
d. Mengalami bencana atau malapetaka
e. Terkena hukuman penjara
2. Keadaan yang sulit dalam diri, yaitu;
a. Kehilangan harapan
b. Putus asa
c. Depresi
d. Kelelahan dalam suasana perang
e. Usaha-usaha bunuh diri
f. Kecanduan narkotika
3. Keadaan transisi, yaitu;
a. Pindah pekerjaan
b. Konflik keluarga
c. Sakit-sakitan
d. Pindah tempat tinggal
e. Ketakutan akan keadaan yang akan datang mengancam
3. Keterampilan untuk Mengadakan Tindakan Posistif dan Perubahan Prilaku Klien
Keterampilan ini tampaknya banyak diwarnai oleh aliran behavioral therapy (terapi prilaku).
Perubahan prilaku ini adalah masalah teknologi, dan bukan maslah system etika, Metode terapi ini mempunyai karakteristik:
a. Pendekatan empiric objektif terhadap tujuan-tujuan klien
b. Perubahan terhadap lingkungan klien
Mengingat tujuan yang akan dicapai, maka konselor terapi perilaku ditntut keahlian khusus. Adapu keterampilan teknikyang termasuk dalam bagian ini adalah:
a. Modeling. Modeling adalah metode belajar dengan cara mengalami atau memperhatikan perilaku orang lain. Tentu model perilaku yang akan ditiru klien hendaklah yang positif dan sesuai dengan tujuan klien. Adapun prinsif-prinsif umum penggunaan teknik modeling adalah sebagai berikut:
1) Tentukan dulu model perilaku mana yang menarik bagi klien
2) Tentukan tujuan-tujuan yang akan dicapai
3) Pilihlah model yang terpercaya dan sesuai dengan usia, jenis kelamin dan budaya bangsa.
4) Tentukan cara simulasi dan praktikum modeling itu
5) Buat atau persiapkan dulu format modeling, skrip, dan urutan-urutan permainan peranan
6) Diskusi dengan klien tentang reaksi-reaksinya dalam hal perasaan., belajar dan sugesti.
7) Klien akan melakukan model itu secara informasi terus menerus hingga ia berhasil.
b. Rewarding skill (keterampila memberikan reward atau ganjaran) keterampilan ini bertujuan untuk memberikan penguat (reinforcement) kepada klien yang;
1) Berhasil mengatasi perilakunya yang kurang baik
2) Mengubah perilaku yang tidak diinginkan oleh klien
3) Dapat memelihar perilaku yang baik (perilaku baru)
Prinsip umum skill ini adalah:
Pertama, bahwa reward dan system insentif harus dapat mempertahankan derajat perilaku yang tinggi dalam waktu lama.
Kedua, reward hendaknya sesuai dengan perilaku yang diinginkan
Ketiga, reward hendaknya cukup kuat dalam menciptakan perilaku baru penguat atau reward (hadiah) dapat diberikan berupa pujian, semangat, hadiah, benda, senyuman, dan pegangan pada bahu.
c. Contracting skill (keterampilan mengadakan persetujuan dengan klien). Kontrak adalah suatu persetujuan (agreement) dengan klien tentang tugas-tugas khusus. Peran reward disini amat penting.
Sesuai dengan pendekatan-pendekatan yang telah dikemukakan di bab-bab yang lalu, maka ada dua pendekatan yang akan dikemukakan, berikut teknik-teknik konseling yang sesuai dengan pendekatan tersebut.
A. Teknik Konseling Keluarga dalam Pendekatan Sistem
Pendekatan system yang dikemukakan oleh perez (1979) mengembangkan 10 teknik konseling keluarga, yaitu:
1. Sculpting (mematung) yaitu suatu teknik yang mengizinkan anggota-anggota keluarga yang menyatakan kepada anggota lain, persepsinya tentang berbagai masalah hubungan diantara anggota-anggota keluarga. Klien diberi izin menyatakan isi hati dan persepsinya tanpa rasa cemas. Sculpting digunakan konselor untuk mengungkapkan konflik keluarga melalui verbal, untuk mengizinkan anggota keluarga mengungkapkan perasaannya melalui verbal, untuk mengizinkan anggota keluarga mengungkapkan perasaannya melalui tindakan (perbuatan). Hal ini bisa dilakukan dengan “the family relationshop tebelau” yaitu anggota keluarga yang “mematung”, tidak memberikan respon apa-apa, selama seorang anggota menyatakan perasaannya secara verbal.
2. Role playing (bermain peran) yaitu suatu teknik yang memberikan peran tertentu kepada anggota keluarga. Peran tersebut adalah peran orang lain dikeluarga itu, misalnya anak memainkan peran sebagai ibu. Dengan cara itu anak akan terlepas atau terbebas dari perasaan-perasaan penghukuman, perasaan tertekan dan lain-lai. Peran itu kemudian bisa dikembalikan lagi kepada keadaan yang sebenarnya jika ia menghadapai suatu prilaku ibunya yang mungkin kurang ia sukai.
3. Silence (diam) apabila anggota berada dalam konflik dan frustasi karena ada salah satu anggota lain yang suka bertindak kejam, maka biasanya mereka datang kehadapan konselor dengan tutup mulut. Kedaan ini harus dimanfaatkan konselor untuk menunggu suatu gejala prilaku yang akan muncul menunggu munculnya pikiran baru. Disamping itu juga digunakan dalam menghadapi klien yang cerewet, banyak omong dan lain-lain.
4. Confrontation (konfrontasi) ialah suatu teknik yang digunakan konselor untuk mempertentangkan pendapat-pendapat anggota keluarga yang terungkap dalam wawancara konseling keluarga. Tujuan agar anggota keluarga itu bisa bicara terus terang, dan jujur serta menyadari perasaan masing-masing. Contoh respon konselor: “siapa biasabya yang banyak omong?”, konselor bertanya dalam suasana yang mungkin saling tuding.
5. Teaching via Questioning ialah suatu teknik mengajar anggota dengan cara bertanya,.
6. Listening (mendengarkan) teknik ini digunakan agar pembicaraan seorang anggota keluarga didengarkan dengan sabar oleh yang lain. Konselor menggunakan teknik ini untuk mendengarkan dengan perhatian terhadap klien. Perhatian tersebut terlihat dari cara duduk konselor yang menghadapkan muka kepada klien, penuh perhatian terhada setiap pernyataan klien, tidak menyela ketika klien sedang serius.
7. Recapitulating (mengikhtisarkan) teknik ini dipakai konselor untuk mengikhtisarkan pembicaraan yang bergalau pada setiap anggota keluarga, sehingga dengan cara itu kemungkinan pembicaraan akan lebih terarah dan terfokus. Misalnya konselor mengatakan “rupanya ibu merasa rendah diri dan tak mampu menjawab jika suami anda berkata kasar”.
8. Summary (menyimpulkan) dalam suatu fase konseling, kemungkinan konselor akan menyimpulkan sementara hasil pembicaraan dengan keluarga itu. Tujuannya agar konseling bisa berlanjut secara progresif.
9. Clarification (menjernihkan) yaitu usaha konselor untuk memperjelas atau menjernihkan suatu pernyataan anggota keluarga karena terkesan samar-samar. Klarifikasi juga terjadi untuk memperjelas perasaan yang diungkap secara samar-samar. Misalnya mislannya konse,or mengatakan kepada jeni, bukan kepada saya”. Biasanya klarifikasi lebih menekankan kepada aspek makna kognitif dari suatu pernyataan verbal klien.
10. Reflection (refleksi) yaitu cara konselor untuk merefleksikann perasaan yang dinyatakan klien, baik yang berbentuk kata-kata atau ekspresi wajahnya. “tanpaknya anda jengkel dengan prilaku seperti itu”.
B. Skill Individual yang Perlu Dikuasai Konselor
Jika pelaksanaan konseling keluarga melalui pendekatan system tak mungkin dilakukan, maka usaha konselor adalah melakukan pendekatan individual terhadap klien yang mengalami kasus keluarga. Misalnya siswa yang bermasalah bersumber dari keluarga. Berhubung kedua orang tuanya sulit untuk di datangkan kesekolah maka buat pertama kali siswa itu diberi konseling individual. Berikut ini adalah beberapa teknik konseling individual.
1. Teknik-teknik Yang Berhubungan Dengan Pemahaman Diri
Teknik-teknik yang berkaitan dengan pemahaman diri ini dibagi atas tujuh kelompok yaitu:
a. Listening skill (keterampilan mendengarkan)
Keterampilan ini terdiri dari;
(1) Attending, yaitu pernyataan dalam bentuk verbal dan non verbal ketika klien memasuki ruang konselor,
(2) Paraphrasing, yaitu respon konselor terhadap pesan utama dalam pernyataan klien. Respon tersebu merupakan pernyataan ringkas dalam bahasa konselor sendiri tentang pernyataan klien,
(3) Clarfyng, yaitu pengungkapan diri dan memfokuskan diskusi. Konselor memperjelas masalah klien,
(4) Perception checking, yaitu menentukan ketepatan pendengaran konselor.
b. Leading skill (keterampilan memimpin)
Keterampilan ini terdiri dari;
(1) Indirect leading, digunakan dalam awal pembicaraan dimana konselor secara tak langsung memimpin klien,
(2) Direct leading, yaitu memberikan klien dan memperluas diskusi,
(3) Focusing, yaitu memfokuskan pembicaraan, mengawasi keragu-raguan, memfokuskan pembiacaraan yang menyebar atau bertele-tele atau bersamar-samar.
(4) Questioning, berhubungan dengan penilikan atau penyelidikan agar klien membuka diri dengan pernyataan-pernyataan yang baru.
c. Reflecting skill (keterampilan merefleksi)
(1) Reflecting feeling, yaitu keterampilan merefleksi perasaan klien;
(2) Reflecting experience, yaitu keterampilan merefleksikan pengalaman klien
(3) Reflecting content, yaitu keterampilan dalam mengulang ide-ide klien dengan bahasa yang lebih segar dan memberikan penekanan.
d. Summarizing skill (keterampilan menyimpulkan)
Yaitu keterampilan konselor dalam menarik kesimpulan-kesimpulan yang menonjol dari pernyataan klien.
e. Confronting skill (keterampilan mengkonfrontasi)
(1) Pengenala perasaan-perasaan dalam diri konselor, konselor sadar akan pengalaman sendiri dihubungkan dengan pengalaman klien.
(2) Mengkonfrontasikan pengalaman, perasaan dan pemikiran klien yang bertentangan.
(3) Pendapat-pendapat yang mereaksi ekspresi klien, konselor mengkonfrontasikan antara pernyataan dengan ekspresi klien, atau dengan gerakan tubuh, pandangan mata.
(4) Meningkatkan konfrontasi diri
(5) Membuka perasaan-perasaan yang tak jelas (repeating)
(6) Memudahkan munculnya perasaan-perasaan yang tenggelam (associating)
f. Interpreting skill (keterampilan menafsirkan)
Terdiri dari;
a. Pertanyaan penafsiran (interpretive questions), memudahkan munculnya kesadaran klien.
b. Fantasi dan metafora (fantasy and metaphor), yaitu mengandaikan, menyimbolkan ide-ide dan perasaan klien.
g. Informing skill (keterampilan menginformasikan)
a. Nasehat (advising), yaitu member sugesti dan pandangan berdasarkan pengalaman konselor.
b. Menginfrmasikan (informing), yaitu memberikan informasi yang valid berdasarkan keahlian konselor.
2. Keterampilan Untuk Menyenangkan dan Menangani Krisis
Keterampilan ini berhubungan dengan klien atau siapa saja yang mengalami krisis, agar supaya konselor mampu merespon dengan fleksibel, cepat dan aktif, serta mencapai tujuan-tujuan yang terbatas. Skill ini juga berhubungan dengan usaha menyenangkan dan konselor sebagai alatnya.
a. Contacting skill (keterampilan mengadakan kontak). Kontak tersebut bisa berupa kontak mata, dan kontak fisik dengan cara memegang bahu klien agar dia merasa senang dan aman. Tetapi kontak tersebut harus didasari oleh kultur, usia, dan keadaan emosinal klien.
b. Reassuring skill (keterampilan menentramkan hati klien) keterampilan ini merupakan usaha konselor untuk meyakinkan akibat logis perbuatannya atau pendekatan. Hal ini merupakan hadiah (reward) bagi klien dan mengurangi stress atau konfliknya. Tujuan teknik ini untuk menanamkan kepercayaan diri klien, memobilisasi kekuatannya, dan mengurangi kecemasan, dan menguatkan prilaku yang diinginkan. Sebagai contoh: “anda dapat merasakan lebih baik”’ “anda dapat menyelesaikan sendiri masalah anda”.
c. Relaxing skill (keterampilan untuk member relax/santai), teknik ini berguna untuk menurunkan ketegangan dengan jalan mengendurkan otot-otot. Teknik relaxation ini dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Tegangkan kedua otot tangan beberapa detik, kemudian kendorkan perlahan-lahan.
b. Tegangkan otot perut dan dada, kemudian kendorkan perlahan-lahan.
c. Tegangkan otot kaki, kemudia kendorkan perlahan-lahan.
d. Tegangkan otot muka, kemudian kendorkan perlahan-lahan.
d. Crisis interpeving skill, teknik bertujuan untuk mengurangi atau meringankan krisis dengan cara mengubah lingkungan klien.
e. Developing action alternatives, teknik ini adalah mengembangkan laternatif-alternatif dalam mengatasi krisis. Konselor mendorong dan memberanikan klien untuk mempertimbangkan alternative-alternatif yang mungkin dapat dilakukan dalam mengatasi krisisnya. Alternative tersebut hendaknya diarahkan konselor berdasarkan persepsi yang realistic klien. Berdasarkan kenyataan, maka fase mengembangkan tindakan mengambil alternative dalam peristiwa klien yang krisis adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan persepsi realistic klien terhadap krisis yang dihadapi klien.
b. Memberikan dorongan untuk mengurangi ketegangan karena adanya krisis dan konflik.
c. Mempertimbangkan semua alternative untuk menagatasi krisis tersebut.
d. Membuat suatu komitmen tentang perbuatan yang bertujuan mencapai keseimbangan yang beralasan dan kesenangan bagi klien.
f. Reffering skill (keterampilan mereferal klien) keterampilan berhubungan dengan sulitnya bagi konselor untuk membantu klien yang krisis. Karena itu konselor harus merefer atau mengadakan referral kepada seorang yang ahli terhadap kasus klien tersebut. Akan tetapi uspaya referral itu berhasil, maka beberapa persyaratan berikut dapat dipenuhi:
(1) Usaha kesediaan klien untuk referal
(2) Mengetahui sumber-sumber referral yang tepat dimasyarakat
(3) Jujurlah dengan keterbatasan konselor sehingga klien perlu direferal.
(4) Mendiskusikan kemungkinan referral dengan lembaga yang menerima.
(5) Bicarakan dengan klien tentang orang-orang atau lembaga yang pernah ia datangi minta bantuan.
(6) Jika klien masih muda, mintalah rekomendasi orang tuanya.
(7) Katakana dengan jujur kepada klien bahwa setiap lembaga juga ada keterbatasannya.
(8) Berilah kesempatan kepada klien atau orang tuanya untuk membuat perundingan dan perjanjian dengan lembaga baru yang akan menanganinya.
(9) Jangan mengirim informasi kepada lembaga baru tanpa izin tertulis dari klien atau orang tuanya.
Mengenai kondisi-kondisi krisis yang mungkin dialami manusia dapat dibagi atas tiga kategori:
1. Keahlian sesuatu (factor luar), yaitu:
a. Perceraian
b. Kehilangan pekerjaan
c. Kehilangan harta milik sperti kebakaran, pencurian, anak meninggal dan lain-lain.
d. Mengalami bencana atau malapetaka
e. Terkena hukuman penjara
2. Keadaan yang sulit dalam diri, yaitu;
a. Kehilangan harapan
b. Putus asa
c. Depresi
d. Kelelahan dalam suasana perang
e. Usaha-usaha bunuh diri
f. Kecanduan narkotika
3. Keadaan transisi, yaitu;
a. Pindah pekerjaan
b. Konflik keluarga
c. Sakit-sakitan
d. Pindah tempat tinggal
e. Ketakutan akan keadaan yang akan datang mengancam
3. Keterampilan untuk Mengadakan Tindakan Posistif dan Perubahan Prilaku Klien
Keterampilan ini tampaknya banyak diwarnai oleh aliran behavioral therapy (terapi prilaku).
Perubahan prilaku ini adalah masalah teknologi, dan bukan maslah system etika, Metode terapi ini mempunyai karakteristik:
a. Pendekatan empiric objektif terhadap tujuan-tujuan klien
b. Perubahan terhadap lingkungan klien
Mengingat tujuan yang akan dicapai, maka konselor terapi perilaku ditntut keahlian khusus. Adapu keterampilan teknikyang termasuk dalam bagian ini adalah:
a. Modeling. Modeling adalah metode belajar dengan cara mengalami atau memperhatikan perilaku orang lain. Tentu model perilaku yang akan ditiru klien hendaklah yang positif dan sesuai dengan tujuan klien. Adapun prinsif-prinsif umum penggunaan teknik modeling adalah sebagai berikut:
1) Tentukan dulu model perilaku mana yang menarik bagi klien
2) Tentukan tujuan-tujuan yang akan dicapai
3) Pilihlah model yang terpercaya dan sesuai dengan usia, jenis kelamin dan budaya bangsa.
4) Tentukan cara simulasi dan praktikum modeling itu
5) Buat atau persiapkan dulu format modeling, skrip, dan urutan-urutan permainan peranan
6) Diskusi dengan klien tentang reaksi-reaksinya dalam hal perasaan., belajar dan sugesti.
7) Klien akan melakukan model itu secara informasi terus menerus hingga ia berhasil.
b. Rewarding skill (keterampila memberikan reward atau ganjaran) keterampilan ini bertujuan untuk memberikan penguat (reinforcement) kepada klien yang;
1) Berhasil mengatasi perilakunya yang kurang baik
2) Mengubah perilaku yang tidak diinginkan oleh klien
3) Dapat memelihar perilaku yang baik (perilaku baru)
Prinsip umum skill ini adalah:
Pertama, bahwa reward dan system insentif harus dapat mempertahankan derajat perilaku yang tinggi dalam waktu lama.
Kedua, reward hendaknya sesuai dengan perilaku yang diinginkan
Ketiga, reward hendaknya cukup kuat dalam menciptakan perilaku baru penguat atau reward (hadiah) dapat diberikan berupa pujian, semangat, hadiah, benda, senyuman, dan pegangan pada bahu.
c. Contracting skill (keterampilan mengadakan persetujuan dengan klien). Kontrak adalah suatu persetujuan (agreement) dengan klien tentang tugas-tugas khusus. Peran reward disini amat penting.
(Prof. Dr.H.Sofyan S. Willis. Koseling
Keluarga (family counseling) suatu upaya membantu anggota keluarga
memecahkan masalah komunikasi di dalam system anggota keluarga. Penerbit
alfabeta. Bandung: 2009).
KEPRIBADIAN
Kepribadian
Menurut gordon Alport (1951) kepribadian atau personality didifinisikan sebagai suatu kesatuan organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam penyesuaian diri dengan atau terhadap lingkungannya.Berbicara kepribadian kita harus membicarakan temperament, sifat, karakter, kebiasaan.
1. Temperament adalah gejala karakteristik dari setiap emosi individu, termasuk juga mudah atau tidaknya terkena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya beraksi, kualitas kekuatan suasana hatinya dan gejala ini tergantung kepada faktor konstitusional dan terutama berasal dari keturunan.
2. Sifat/trait adalah sistem neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan dengan kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, serta melalui membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama.
3. Watak atau karakter lebih bersifat stabil, herediter atau bawaan dan bersifat normatif.
4. Kebiasaan adalah sama dengan trait hanya perbedaan situasi yang dicocoki atau direspon yang terjelma dari kondisi itu.
B. Tipologi Kepribadian
a. Tipe Kepribadian
Kontruksi ideal si pengamat dan seseorang dapat disesuaikan dengan type itu tetapi dengan konsekuensi diabaikan sifat-sifat khas individualnya. Perkembangan kepribadian dimulai masa remaja dengan ciri-ciri aktualisasinya dengan kematangan individu itu sendiri dan motivasi memang sudah dibawa pada masa kanak-kanak semata-mata kepribadian itu belum dimiliki. Anak dilengkapi dengan dorongan nafsu-nafsu dan reflek-reflek. Dari lahir anak sudah memiliki potensi dan sifat. Pada tahun pertama akhir, anak telah menunjukkan sifat yang khas itu.
b. Pembentukan Kepribadian
Membentuk kepribadian menurut Sigmmund Freud dimulai dai Id, Ego, Super Ego, karena Id adalah sumber dari motif yang paling dalam, sedangkan motivasi merupakan motor berprilaku seseorang yang akan mencerminkan kepribadiannya. Menurut Murray Ego adalah kenamaan kebudayaan dan nilai kesatuan yang mengatur tingkah lalu/aktifitas dan akan menunjukkan kepribadian seseorang. Murray penganut pembentukan kepribadian itu berdasarkan analisa motif yang tentunya tidak bisa terlepas dari alam kebutuhan seseorang.
c. Perkembangan kepribadian
Anak 2-3 tahun belum begitu tertari pada nilai-nilai. Anak lahir memiliki dorongan- dorongan naluri dan reflek-reflek dan belum punya kepribadian. Usia 2,5 tahun belum mempunyai kepribadian, tetapi sudah terlihat perbedaan kualitas kepribadian meliputi; deferensiasi, integrasi, kematangan, imitasi, belajar dan pengembangan diri. Anak usia 5 tahun keatas mulai mempunyai kualitas kepribadian. Anak mulai mengenal nilai, berdasarkan faktor pertambahan usianya, berarti bertambah pula kematangannya, otomatis kepribadian semakin berkembang.
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap Kepribadian
Faktor sikap, bakat, kecakapan, minat dan perasaan (instrinsik faktor) sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Juga kebutuhan dan motivasi serta tujuan seseorang berperilaku sangat menentukan kepribadian seseorang. Demikian pula dengan persepsi seseorang. Faktor ekstrinsik atau faktor yang datangnya dari luar seperti; sosialisasi seseorang (hubungan inter atau antar personal). Faktor budaya, nilai, ideologi, politik, dan Hankam akan pula berpengaruh terhadap kepribadian. Karena kepribadian seseorang itu berkembang dan dinamis maka dapat berubah atas pengaruh faktor belajar, pengalaman, instrospeksi dan tingkat energi dalam tubuh ( faktor Biologis).
e. Aplikasi teori perkembangan kepribadian bagi perawat dan keperawatan
1. Perawat dapat mengembangkan kepribadiannya sesuai profil pribadi perawat tanpa harus melalui pendidikan formal.
2. Perawat dalam melaksanakan tugasnya dalam Asuhan Keperawatan sesuai dengan teori kepribadian, pembentukan kepribadian, perkembangan kepribadian, tipe dan jenis kepribadian.
Menurut Hartman (2004), setiap orang memiliki kepribadian dasar. Kepribadian seseorang telah terbentuk sejak nafas pertama ditiupkan di dalam kandungan. Kepribadian seseorang memang dapat berkembang tetapi tidak akan keluar dari sifat-sifat inti atau dasarnya. Kepribadian adalah inti pikiran dan perasaan di dalam diri seseorang yang memberitahu bagaimana ia membawa diri. Kepribadian merupakan daftar respon berdasarkan nilai-nilai dan kepercayaan yang dipegang kuat. Kepribadian akan mengarahkan reaksi emosional seseorang disamping rasional terhadap setiap pengalaman hidup. Dengan kata lain, kepribadian adalah proses aktif didalam setiap hati dan pikiran seseorang yang menentukan bagaimana ia merasa, berpikir dan berperilaku.
Taylor Hartman (2004) membagi tipe kepribadian menurut empat aspek dominan didalam alam; api, tanah, air dan udara. Atas dasar ini kemudian ia membedakan empat tipe kepribadian orang menurut kode warna, yaitu tipe kepribadian merah, biru, putih dan kuning. Kepribadian merah merepresentasikan sifat-sifat api memiliki semangat yang membara dalam kehidupan; kepribadian biru merepresentasikan sifat-sifat tanah kuat dan teguh dalam pendirian; kepribadian putih merepresentasikan sifat-sifat dasar air mengalir dan mengikuti arus; kepribadian kuning merepresentasikan sifat-sifat angin bertiup kesana kemari. Masing-masing tipe kepribadian memiliki keunikan sendiri yang merupakan gabungan antara kekuatan dan kelemahan.
Kepribadian memang bersifat unik, sehingga tidak ada satu orangpun yang sama persis dengan orang yang lain, meski terlahir kembar satu telur. Memang ada jutaan variasi kepribadian, namun menurut Hartman (2004) kepribadian setiap orang dapat digolongkan menurut motif dasar, kebutuhan dan keinginan yang cenderung stabil sepanjang hayat. Di pandang dari sudut perbedaan motif dasar, kebutuhan dan keinginan maka setiap orang dapat digolongkan kedalam tipe kepribadian merah, biru, putih dan kuning. Penggolongan berdasarkan warna ini dengan maksud agar lebih mudah untuk diingat.
Kepribadian merah menjalani hidup dengan penuh kekuatan. Merah sangat berkomitmen pada tujuan dan bertekad untuk menyelesaikan apapun yang disodorkan kehidupan di hadapannya. Kepribadian merah begitu penuh tekad dan produktif sehingga keintiman diabaikan atau disangkal sebagai bukan hal penting.
* Kehidupan adalah rangkaian komitmen bagi biru. Berkomitmen pada hubungan mungkin merupakan kekuatan biru yang terbesar. Biru senang bersama orang lain dan dengan sukarela mengorbankan keuntungan pribadi demi memiliki hubungan yang akrab. Biru memberi diri dengan murah hati dalam hubungan bernilai. Karena kesediaan untuk komit dalam hubungan, biru menjalin persahabatan mendalam yang seringkali berlangsung seumur hidup. Biru sangat bisa diandalkan dan memandang janji verbal sama mengikatnya seperti kontrak tertulis manapun, bangga akan kemampuan mempertahankan hubungan jangka panjang. Sifat mengagumkan ini memberi kredibilitas konsep bahwa biru biasanya menikmati hubungan yang jauh lebih kaya daripada tipe kepribadian manapun. Biru sepenuhnya setia pada orang. Biru tetap setia dalam masa senang dan susah. Ketika orang menyadari dalamnya komitmen biru, mudah dipahami mengapa cuaca baik dan buruk tidak banyak berdampak pada kesetiaan biru.
* Biru dan putih sama-sama mampu sangat komit pada satu sama lain. Biru dan putih menghargai rasa aman dan menemukan hubungan dalam komitmen sebagai cara paling alamiah untuk menikmati hidup. Biru cenderung merasakan komitmen emosional yang mendalam pada orang, sementara putih merasa mudah menerima dan mencintai orang-orang yang dijumpai. Putih toleran dan menerima orang lain. Putih komit tanpa banyak ribut dalam hubungan.
* Tidak ada kepribadian lain yang mengejar kesenangan seperti kuning. Kuning seringkali hidup untuk bermain. Ketika kuning tertekan ditempat kerja atau dirumah, hobi yang membangkitkan energi atau liburan singkat menggantikan wajah lusuh dengan semangat kemudaan. Kuning tidak mengerti mengapa ada yang mau komit pada sesuatu yang tidak mengandung kesenangan didalamnya. Karena menyukai kesenangan dan tidak suka dikekang,
kuning jarang mau terikat dalam suatu pernikahan.
C. Sesungguhnya Pribadi yang menyenangkan adalah
Telah dibahas pada bab pendahuluan, pribadi yang menyenangkan itu adalah kepribadian yang baik merupakan kunci sukses diterima atau tidaknya kita dalam pergaulan, baik itu di rumah, kampus, kantor atau dimanapun. Coba saja kita perhatikan hanya mereka yang berkepribadian menariklah yang memiliki banyak teman dan sahabat. Orang-orang dengan kepribadian yang baik selalu dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padanya. Memang kepribadian merupakan watak dasar atau karakter seseorang yang sudah terbentuk dalam dirinya. Karena itu kepribadian setiap orang jelas tidak sama. Namun bukan berarti kepribadian yang buruk tidak bisa dirubah. Jika selama ini kepribadian dinilai kurang baik, tidak ada salahnya kita mulai merubahnya dari sekarang. Bagaimanapun juga memperbaiki kepribadian bukanlah sesuatu yang merugikan. Justru sebaliknya, merubah hal menjadi baik adalah suatu jalan menuju kebenaran. Nah, kita tentu ingin menjadi pribadi yang disukai banyak orang. Apalagi kalau kita berada di lingkungan kerja yang menuntut anda selalu berinteraksi dengan orang lain.
D. Langkah-langkah menjadi pribadi yang menyenangkan
Kepribadian manusia selalu menjadi tema yang menarik untuk dicari tahu, apalagi kepribadian kita sendiri. Rasa ingin tahu tersebutlah yang lantas membuat banyak orang pergi ke psikolog untuk menjalani tes-tes kepribadian. Semua ini dilakukan demi mengetahui “seperti apa sesungguhnya diri kita ini?”
1. Jadilah Pemberi yang Tulus
Pribadi yang menyenangkan adalah pribadi yang menjadi pemberi yang tulus, memberikan apapun yang terbaik, bermanfaat, membawa inspirasi untuk hidup yang lebih baik bagi orang lain. Kita jangan pernah pelit, jangan menghitung untung-rugi, jangan terbiasa menggantungkan hidup dari pemberian orang lain. Memberikan yang terbaik untuk orang lain, terutama yang benar-benar membutuhkan kita.
1. Memiliki Kemauan yang Kuat
Orang yang tidak memiliki kemauan kuat tidak akan pernah sukses. Ini akan bertambah buruk ketika kita mengandalkan pemikiran orang lain. Bila kita selalu bergantung pada orang lain, berarti kita selamanya menjadi ”bawahan”; orang yang hanya menjadi pelaksana kerja tanpa pernah menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan orang lain. Jadilah pribadi yang berkemauan kuat untuk merasakan keberhasilan dan kebahagiaan. Percaya diri, jangan mudah menyerah, perbesar motivasi untuk sukses adalah kunci atau kiat untuk mencapai keberhasilan.
1. Jadilah Diri Sendiri
Gampang-gampang susah menjadi diri sendiri, yang memiliki kelebihan dan keunikan di banding orang lain. Namun faktanya kita bisa menjadi diri kita sendiri; kita bisa memiliki kelebihan di bidang yang kita geluti, dan memancarkan keunikan karena kita berbeda dari orang lain. Syukuri apa pun keadaan kita saat ini, yakinlah pada apa yang kita perbuat; selama perbuatan kita baik dan memancarkan kasih pada sesama. Dan, miliki standar penilaian untuk diri sendiri; orang yang tepat menilai diri kita adalah kita sendiri. Orang lain memang dapat menilai kita, namun ketepatannya tidaklah sama bila kita menilai diri kita sendiri.
2. Memiliki Etika
Pergaulan yang sehat mudah diciptakan bila setiap pribadi memiliki etika yang tinggi. Sebaliknya pribadi yang amburadul, tidak menghargai aturan bersama, akan merusak citra diri dan kelompok, termasuk dilingkungan kita berada atau bekerja. Menghargai orang lain seperti kita menghargai diri kita sendiri akan mempermudah kita menyesuaikan diri dengan orang lain. Menghargai sistem yang berlaku dilingkungan pergaulan, dan mempelajari seluk-beluk etika yang melingkupi kita. Dengan perilaku seperti ini, kita akan mudah memiliki etika yang diterima lingkungan, baik lingkungan kerja maupun keluarga.
3. Pribadi yang Sederhana
Kesederhanaan hati dalam berperilaku mencerminkan ”kerendahan jiwa” yang memesona bagi diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya, kesombongan dan sikap selalu meninggikan diri lebih sering merusak interaksi dengan sesama. Sebuah kesuksesan sering kali bermula dari kesederhanaan sikap dan langkah. Oleh karena itu, apabila kita ingin menciptakan keberhasilan yang tidak melukai orang lain, milikilah jiwa yang sederhana. Kita tidak akan pernah merasa”lebih tinggi dan lebih hebat” dari orang lain apabila kita selalu merendah, mengedepankan kesederhanaan yang mengagumkan.
4. Selalu tahu Berterima Kasih
Suatu kesuksesan dalam hidup ini tidak pernah datang sendirian. Kesuksesan sering kali menghampiri kita bersama ”jasa orang lain”. Dengan kata lain, kita tidak akan bisa meraih kesuksesan sendirian; ada andil orang lain. Oleh karena itu, bangunlah pribadi yang ”tahu berterima kasih” agar kita menyenangkan mereka yang turut memberi peran dalam kesuksesan kita.
5. Lancarlah Berkomunikasi
Mengabaikan komunikasi sama halnya dengan mengabaikan keberhasilan. Oleh karena itu, secepatnyalah membangun pribadi yang lancar berkomunikasi agar keberhasilan tidak lewat begitu saja dihadapan kita. Dengan lancar berkomunikasi, kita kita akan mudah memandu diri sendiri dan orang lain yang berada di lingkup kesuksesan kita untuk bersama-sama memahami kesulitan atau tantangan yang harus dipecahkan, tanpa perlu terjadi salah paham dalam suatu beban tugas.
6. Kendalikan Diri
Untuk membangun diri dengan baik kita harus mengendalikan diri sendiri dalam segala hal. Pengendalian diri yang baik juga akan memandu kita dalam menentukan bidang keberhasilan yang kita inginkan. Suasana apapun yang sedang melingkupi kita saat ini, buatlah suasana itu menyenangkan bagi diri sendiri. Apabila kita sedang mengalami duka yang mendalam, anggaplah hal itu sebagai ”pemanis hidup”. Jangan beranggapan bahwa kita akan selamanya mengalami situasi pahit itu. Sebaliknya, bila kita sedang bersukacita, jangan terbawa emosi untuk merayakan secara berlebihan. Kita harus dapat menendalikan diri untuk secara wajar menikmati kebahagian yang kita rasakan. Penendalian diri itulah kuncinya. Dalam situasi apa pun, kendalikanlah diri kita.
7. Jujurlah pada Diri Sendiri
Meski kadang menyakitkan, kejujuran tetap harus kita utamakan. Jangan biarkan diri kita rusak hanya karena ketidakjujuran, kelicikan, suka berkelit, atau karena perbuatan-perbuatan tidak kesatria lainya. Kita harus berdiri di atas kejujuran dalam setiap hal yang berkaitan dengan impian menuju keberhasilan. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menanamkam rasa jujur dalam diri kita sendiri; biasakan berbuat sesuatu sesuai dengan ucapan anda, jangan ”menyembunyikan diri” dibalik kelemahan, akuilah kelemahan yang ada pada diri kita, dan yang terakhir, ingatlah bahwa orang lain sakit hati ketika kita bohongi.
8. Bersikaplah Percaya Diri
Apa yang dapat kita lakukan tanpa kepercayaan diri? Mungkin kita hanya terombang-ambing dalam sebuah keadaan tanpa bisa berbuat apa-apa. Mungkin kia hanya menggantungkan nasib tanpa memiliki keputusan terbaik demi diri sendiri. Lebih berbahaya lagi, seluruh hidup kita ketergantungan pada orang lain yang lebih memiliki kepercayaan diri. Jadi sangatlah pantas bila kita melihat dan mengukur seberapa besar kepercayaan diri yang kita miliki? Apabila kita belum memiliki kepercayaan diri, galilah dengan cerdas dari dasar hati dan pikiran. Sebaliknya, apabila kita telah memilikinya, gunakan untuk meraih impian dan kesuksesan dalam diri kita. Rasa percaya diri bisa membuat kita mudah untuk menentukan sikap, mampu untuk mengatasi kesulitan hidup, dan rasa percaya diri menuntun kita menuju apa yang kita impikan.
9. Bersikaplah Cepat Tanggap
Mungkin tidak ada tempat untuk orang yang berjalan lamban di jalur kesuksesan. Tidakan yang lamban selain membuang waktu, juga terasa membosankan apabila kita tipe pribadi yang ingin cepat dan cerdas dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Mungkin juga kita merasa gerah bila melihat orang-orang di sekitar yang menyia-nyiakan waktu dan tenaga hanya karena mereka kurang cekatan dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugas-tugas. Orang yang cepat tanggap tidak akan meremehkan waktu dan kesempatan yang datang menghampirinya. Sebaliknya, apa pun tantangan atau kesempatan yang menghampiri, dengan tanggap dan cekatan akan diambilnya; hasilya pun cepat mereka nikmati. Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk menjadi pribadi yang cepat tanggap;
a. Jangan terbiasa membuang waktu dengan percuma. Kebiasaan menghabiskan waktu tanpa tindakan yang bermakna hanya akan merugikan diri sendiri.
b. Kembangkan Imajinasi. Semakin kaya imajinasi, semakit cepat kita menanggapi setiap hal yang menghampiri.
c. Mulailah sekarang, karena hari esok belum tentu berpihak pada kita. Apabila kita beranggapan bahwa inilah saatnya untuk memulai, maka mulailah segera, jangan ditunda-tunda.
10. Buat daftar perilaku anda yang terdiri dari kebaikan dan keburukan.
Kemudian coba bandingkan mana yang lebih banyak kebaikan atau keburukan. Lalu pikirkan apa yang mendorong anda bersikap baik dan apa yang mendorong anda berperilaku buruk. Berjanjilah pada diri sendiri untuk merubah hal-hal buruk pada diri anda. Setiap saat anda berhasil merubahnya, berjanjilah untuk tidak kembali menjadi buruk. Dengan demikian, perlahan-lahan sikap dan sifat buruk anda akan hilang sama sekali.
11. Jagalah ‘ucapan’ anda
Pepatah mengatakan ‘lidah lebih tajam daripada pedang’. Memang kadang kata-kata dan ucapan yang ‘pedas’ terasa lebih menyakitkan daripada perbuatan buruk sekalipun. Kalau selama ini anda dikenal sebagai orang yang ‘nyinyir’ dan ketus cobalah untuk merubahnya perlahan-lahan. Tahan keinginan anda untuk melontarkan komentar buruk, celaan, dan sindiran terhadap orang lain yang tidak anda sukai, sekalipun anda sangat ingin.
12. Dengarkan orang lain
Salah satu hal yang membuat anda disukai banyak orang adalah anda bisa menjadi pendengar yang baik. Coba anda cermati setiap kali anda berinteraksi. Apakah anda terlalu mendominasi percakapan jika berbincang dengan orang lain?. Jika ‘ya’ cobalah untuk belajar mendengar. Jangan terlalu sibuk memuji diri sendiri. Berikan respon yang positif atas percakapannya dengan anda.
13. Jangan menunjukkan sikap tidak setuju pada orang lain secara frontal, sekalipun memang anda tidak setuju.
Pada moment tertentu seperti rapat kantor atau diskusi, anda memang boleh mengungkapkan kebenaran dengan menyanggah pendapat orang lain yang anda anggap salah. Tetapi pada obrolan santai seperti saat makan siang, anda tidak perlu terlalu menunjukkan sikap tidak setuju pada pendapat teman anda. Anggukkan kepala setiap kali teman anda berbicara.
14. Jangan biarkan orang lain merasa tidak nyaman dengan kehadiran anda.
Selama ini anda yang tergolong pemarah, sensitif, sering mengeluh, dan jarang tersenyum membuat orang lain merasa enggan berada di dekat anda. Orang lain merasa tidak nyaman, karena khawatir sewaktu-waktu anda akan melibatkan dia dalam emosi anda. Coba kendalikan emosi dengan lebih memahami kehadiran orang-orang di sekeliling anda. Belajarlah untuk berpikir positif dan tersenyumlah pada orang-orang yang menyapa anda. Ciptakan suatu sikap yang membuat orang lain merasa ‘nyaman’ dengan kehadiran anda.
Memang pada awalnya anda akan kesulitan merubah kepribadian yang selama ini melekat pada diri anda. Tapi percayalah kepribadian yang baik merupakan modal terbesar dalam menuju sukses. Terlebih di lingkungan pekerjaan yang banyak melibatkan orang-orang/ personil
BAB III
PENUTUP
Besar kecilnya suatu keberhasilan atau kesuksesan ditentukan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah faktor kepribadian. Di samping itu kita dapat ”melihat ke dalam” diri kita, dan pribadi seperti apa yang telah kita miliki.
Selalu masih ada waktu dan kesempatan untuk membangun dan menunjukkan keperibadian pribadi yang menyenangkan untuk diri sendiri dan juga orang lain, apabila kita merasa belum sepenuhnya berhasil membangunnya untuk keberhasilan diri yang kita ingingkan itu. Jangan ragu dan jangan beranggapan bahwa membangun pribadi yang menyenangkan itu sulit. Yakinlah bahwa kita pasti bisa melakukannya. Pribadi yang menyenangkan itu adalah hak kita sebagai individu, dan sudah seharusnya dikembangkan demi mewujudkan keberhasilan yang kita cita-citakan.
Inilah catatan penutup yang dapat membantu kita membangun pribadi yang menyenangkan itu.
1. Mulai dari Diri Sendiri
Mulailah membangun pribadi yang menyenangkan itu dari diri sendiri, bukan karena ingin meniru orang lain. Dengan membangun pondasi di dalam diri, pribadi kita akan lebih kuat dan tidak mudah goyah karena pengaruh orang lain dan situasi disekitar kita. Di samping itu, kita dapat selalu mengembangkan diri sesuai dengan kehendak kita. Jadi, mulailah dari diri sendiri untuk setiap hal yang menentukan keberhasilan kita.
2. Terbuka terhadap ”Teguran” orang lain
Teguran dari orang lain dapat berupa kritik, saran dan masukan pada diri kita. Mungkin dari rekan kerja, klien, keluarga merasa perlu memberikan teguran yang positif untuk kebaikan kita. Oleh karena itu, bijaksanalah dalam menerima teguran atau masukan itu. Ambilah pelajaran baik dari teguran itu, dan gunakan untuk membangun pribadi yang menyenangkan, demi suatu keberhasilan.
3. Bertahap dan Setiap Hari
Seperti halnya membangun sebuah rumah, kita perlu bertahap melakukannya, tidak bisa sekali jadi. Demikian pula untuk membangun pribadi yang menyenangkan, kita perlu bertahap dan rutin setiap hari, jangan tergesa-gesa agar bangunan itu tidak roboh. Kita memiliki bangunan pribadi yang kokoh, karena kita mengerjakan bangunan itu. Kita melakukan secara bertahap, penuh perhitungan dan setiap saat pada kesempatan yang datang pada kita.
4. Saat Ini
Ya, wujudkanlah langkah kita mulai sekarang untuk membangun kepribadian yang menyenangkan itu. Jangan tunda esok hari. Lebih cepat kita memulai, lebih cepat kita nikmati keberhasilannya.
DAFTAR PUSTAKA
Elizabeth Wagele dan Renee Baron. 2005. Eneagram. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
Goleman, Daniel. 1995. Emotional Intelligence. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Prasetyo Herry. 2007, Pribadi yang Menyenangkan. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer; klp Gramedia.
Widayatun Tri Rusmi. 1999, Ilmu Prilaku M.A.104. Jakarta: CV Sagung Seto; PT Fajar Interpratama.
www.google.com/glorianet.org.psikologi/kepribadian.
Selain itu, Anda juga bisa mendownload Makalah Filosofi BK. berikut link downloadnya
Download Makalah Filosofi BK
Langganan:
Komentar (Atom)